Rabu, 28 Oktober 2015

Bahagia

Sekarang hari kamis tgl 29 oktober 2015,
Di hari kamis ini aku dapat mengambil banyak hikmah dari suatu perjalanan hidupku,
Yang pertama, aku kemarin sakit, penyakit ini menurut dokter sejenis skalor, tapi dokter juga belum bisa memastikan karena ini hanya sebuah perkiraan,, aku periksa dikenai biaya 100rb, menurutku itu adalah harga yang fantastis, karena untuk memperoleh 100rb itu aku harus kerja selama 1bulan, tapi ternyata bapakku yang ku kira udah gak peduli pada penyakitku telah membayarnya dengan lunas dan tanpa minta ganti rugi kepadaku, mungkin menurut orang itu wajar karena dia bapakku dan dia bertanggung jawab penuh terhadapku,, tapi aku berfikiran berbeda, bapakku adalah sosok orang yang perhitungannya jarang meleset, prinsip ekonominya sangat di junjung tinggi, dia rela gak makan dan gak minum demi seorang anak, mungkin kasih sayang orang tua pada anaknya di tunjukkan secara berbeda, ada yang diperlihatkan pada anaknya, ada juga yang dilakukan secara sembunyi,, kalau orang tuaku termasuk tipe yang sembunyi, saat mereka tau anaknya dalam keadaan sulit mereka tidak langsung turun tangan membantu, tapi mereka melihat dulu bagaimana perjuangan kita dalam menghadapi sebuah masalah, tapi secara tidak langsung dan tidak sadar mereka selalu membantu secara tenaga, pikiran dan uang,, mereka tidak pernah mempermasalahkan berapa besar yang mereka keluarkan, tapi mereka hanya berpesan jangan pernah lupa dengan jasa orang lain yang pernah membantu kita sekecil apapun bantuan itu, karena kita hidup di dunia itu tidak bisa berdiri sendiri tanpa bantuan prang lain, kita ini makhluk sosial dan sampai kapan pun akan saling membutuhkan,,
Yang kedua, hari ini aku jadi qoriah di acara santunan anak yatim yang ada di desaku, aku sangat grogi sekali karena banyak orang disana, tapi ibukku yang selalu mendorong semangatku kalau aku bisa, sebelum acara di mulai, segala sesuatu yang kubuhkan dan yang aku inginkan oleh ibu aku udah di persiapkan matang", beliau rela kehilangan apapun demi anaknya berani untuk qiroah, yang dilakukan beliau pertama kali adalah, menyiapkan masakan kesukaanku, menyiapkan baju yang akan ku pakai, menyiapkan obat yang harus aku minum sebelumnya, dan lain sebagainya,, untuk apa beliau seperti itu, karena beliau srlalu mrnginginkan anaknya untuk menjadi yang terbaik,, tapi jika kenyataanya tidak seperti yang beliau inginkan beliau tidak akan pernah marah, justru beliaulah orang yang pertama kali memuji dan memberi apresiasi lebih dari perkiraanku sebelumnya,